1. Mengapa psikologi pendidikan menjadi sangat penting untuk difahami dan diterapkan oleh guru, saat memfasilitasi proses pembelajaranya?
Jawab:Psikologi pendidikan menjadi sangat penting untuk difahami oleh guru, karena jika guru
tidak mengerti apa arti tentang psikologi pedidikan itu sendiri. Bagaimana guru tersebut
dapat memahami kepribadian individu anak didiknya dalam mengajar. Selain itu pula, guru
tersebut akan mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar.
Perlu diketahui pula bahwa psikologi pendidikan adalah bagian/cabang dari psikologi
atau ilmu tingkah laku yang berkaitan dengan tujuan dan praktek pendidikan di sekolah.
Dengan demikian, psikologi itu dapat didefinisikan sebagai psikologi yang menerapkan
dan mengembangkan prinsip-prinsip, teknik-teknik dan teori-teori yang berkaitan dengan
pelaksanaan belajar-mengajar yang memadai sehingga guru dapat membantu
mengarahkan/membimbing perkembangan murid-muridnya ke arah sasaran yang tepat atau
perkembangan yang maksimal.
2. Informasi tentang proses psikologi yang berpengaruh pada proses belajar, seperti: motivasi,
perasaan, ingatan, fantasi, perhatian, pengamatan dan tanggapan.
Jawab:
Motivasi adalah dorongan atau kekuatan dari dalam diri seseorang yang mendorong
orang bertingkah laku atau berbuat sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Perasaan adalah keadaan diri seseorang yang muncul sesuai dengan apa yang
dirasakannya atau sesuai dengan suasana tempat yang di tempatinya.
Perhatian yaitu mempunyai tugas selektif terhadap rangsangan-rangsangan yang sampai
kepada individu.
Ingatan adalah kesan-kesan pengalaman masa lalu yang tertinggal jejaknya pada otak
kita, selalu ada secara sadar dan dapat ditimbulkan kembali.
Tanggapan adalah bayangan/kesan kenangan dari apa yang pernah kita amati/kenali.
Fantasi adalah suatu daya jiwa untuk menciptakan tanggapan-tanggapan baru dengan
bantuan tanggapan-tanggapan yang ada pada diri kita, menciptakan sesuatu yang baru
dalam jiwa.
3. Pakar psikologi
John Dewey
Menurut John Dewey:
Pendidikan harus dilangsungkan dengan berpangkal pada pengalaman anak sendiri.
Tetapi karena tidak semua pengalaman berfaedah maka sekolah harus memberikan
pengalaman yang berfaedah demi masa depan anak.
Maksud dan tujuan sekolah ialah menciptakan dan mengembangkan sikap hidup demokratis.
Penelitian John Dewey bertujuan memperoleh jawaban dari:
1. Bagaimana menghubungkan sekolah dengan lingkungan.
2. Bagaimana meghubungkan sejarah, pengetahuan dan kesenian dengan hidup si pelajar.
3. Bagaimana mengajarkan baca, tulis, hitug dengan bahan yang mearik siswa.
4. Bagaimana membangkitkan minat murid pada pokok pelajaran.
Kritik Dewey terhadap pendidikan tradisional:
1. Sekolah tradisional terlalu banyak mata pelajaran. Bahan pelajaran menjadi pusat seluruh
kegiatan sekolah, materio centris.
2. Bahan Pelajaran telah disiapkan dan dipecahkan kesulitannya, membuat siswa tinggal
mendengarkan, percaya dan menghafal saja.
3. Bahan pelajaran diberikan secara terpisah dan tidak memiliki hubungan dengan
kebutuhan anak dalam hidupnya di masyarakat kelak.
4. Gurulah yang menentukan. Guru berfikir untuk anak dan “memaksakan” bahan pelajaran
untuk siswa.
5. kegiatan di sekolah berlangsung kaku dan tidak memberikan kebebasan bertindak.
6. Bentuk bangku, gedung sekolah, kurikulum dan metode pelajaran semuanya mengikat
dan tidak memberi kebebasan kepada anak dan guru.
7. Guru aktif memecahkan masalah untuk anak. Peraturan dan guru seakan-akan memaksa
anak untuk pasif.
Gagasan Perubahan Dewey
1. Masyarakat harus menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk belajar agar: tidak
bergantung pada dogma, berfikir bebas, berdisiplin, objektif, kreatif, dinamis.
2. Materi pelajaran diberikan secara terpadu dan dipraktekkan dalam masyarakat anak.
3. Kehidupan menjadi pusat bahan pelajaran (life central education).
4. Guru hanya berfungsi sebagai penunjuk jalan dan pengamat tingkah laku anak, untuk
mengetahui hal-hal yang menarik minat anak (guru bisa mempergunakan hasil
pengalaman untuk menentukan pusat minat anak)
5. Lingkungan sekolah harus diatur dan diselenggarakan sedemikian supaya anak dapat
bekerja dengan bebas dan spontan.
Hambatan atau penyimpangan dari gagasan Dewey ialah ketika mata pelajaran disesuaikan
dengan kesenangan guru dan murid atau hanya diredaksi menjadi latihan kejuruan.
Keyakinan bahwa proses pendidikan sejati berlangsung melalui pengalaman, tidak berarti
bahwa semua pengalaman bersifat edukatif.
Penglaman bersifat edukatif jika ada keteraturan proses dan dapat diulang, dan bisa
melahirkan proses struktur pengalaman, mengungkap urutan pengalaman, menganalisis
hubungan (sebab-akibat) satu pengalaman dengan pengalaman lainnya dan akhirnya dapat
membuat kesimpulan sebagai hasil belajar dari pengalaman.
Situasi belajar yang sesungguhnya memiliki dimensi-dimensi yang bersifat longitudinal dan
literal memiliki sifat historis dan sosial, bersifat dinamis.
Sekolah tradisional mengandalkan berbagai pokok persoalan dan warisan budaya.
Sekolah progresif mendasarkan pelajaran pada dorongan dan minat serta berbagai perubahan
sosial.
Dewey mengarahkan pendidikan sesuai metode ilmiah, dengannya manusia mempelajari
dunia dan mendapatkan secara komulatif pengetahuan tentang berbagai arti dan makna.
Sebuah games dapat menjadi media belajar dari struktur pengalaman manakala pengalaman
itu memiliki dimensi-dimensi longitudinal dan literal, historis dan sosial, teratur dan dinamis.
Pengalaman bersifat edukatif sejauh bergantung pada suatu kontinuitas pengetahuan dan
kadar pengetahuan yang membentuk dan memodulasikan pandangan hidup, sikap dan
pengetahuan siswa.
Metode
Proses pembelajaran didasarkan pada anggapan bahwa dalam suasana menyenangkan siswa
akan memperoleh kontinuitas pengalaman pendidikan yang relevan dengan kehidupan yang
nyata dan pembentukan pengalaman masa datang. Guru akan menghindarkan siswa dari
pengalaman salah yang mempersempit ruang pertumbuhan potensi siswa.
Proses pembelajaran ini berpusat pada kepentingan pribadi siswa melalui area interaksi yang
mengintegrasikan berbagai kompetensi dasar siswa.
Pendekatan belajar dari pengalaman meliputi 4 area interaksi, yaitu:
1. Pelayanan masyarakat.
2. Manusia budaya.
3. Peduli lingkungan.
4. Kesehatan jasmani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar