Jumat, 13 Juni 2008

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan

FILSAFAT PENDIDIKAN

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

Beberapa aliran filsafat pendidikan;

1. Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.

2. Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan

3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.

Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.


ESENSIALISME DAN PERENIALISME

Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.

Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.

Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.

Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.

Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:

1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)

2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)

3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)

Adapun norma fundamental pendidikan menurut J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.


PROGRESIVISME


Tujuan Progresivisme

Meningkatkan masyarakat sosial demokratis.

Pemikiran Progresivisme

Progresivisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar “naturalistik”, hasil belajar “dunia nyata”, dan juga pengalaman teman sebaya.

Teori Dewey tentang sekolah adalah “Progresivisme” yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya dari pada mata pelajaran itu sendiri. Maka munculah “child centered curriculum” dan “child centered school”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas, seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya “my pedagogical creed”, bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. Jadi aplikasi ide Dewey adalah anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik dulu, baru peminatan.

Asas belajar

Pandangan mengenai belajar, filsafat progresivisme mempunyai konsep bahwa anak didik mempunyai akal dan kecerdasan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Kelebihan anak didik memiliki potensi akal dan kecerdasan dengan sifat kreatif dan dinamis, anak didik mempunyai bekal untuk menghadapi dan memecahkan problema-problemanya.

Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses pendidikan tentulah berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang. Usaha-usaha yang dilakukan adalah bagaimana menciptakan kondisi edukatif, memberikan motivasi-motivasi dan stimuli-stimuli sehingga akal dan kecerdasan anak didik dapat difungsikan dan berkembang dengan baik.

John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi. Artinya disini sebagai proses pertumbuhan dan proses dimana anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup disekolah saja.

Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Artinya sekolah adalah bagian dari masyarakat. Untuk itu sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik dan kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah dimana lingkungan itu berada. Untuk dapat melestarikan usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Untuk itulah filsafat progresivisme menghendaki isi pendidikan dengan bentuk belajar “sekolah sambil berbuar” atau “learning by doing”.

Tegasnya, akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge atau pemindahan pengetahuan akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of value atau pemindahan nilai-nilai, sehingga anak menjadi trampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan.

John Locke mengemukakan, bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. Kemudian Jean Jacques Rosseau menyatakan anak harus dididik sesuai dengan alamnya, jangan dipandang dari sudut orang dewasa. Anak bukanlah miniatur orang dewasa, tetapi anak adalah anak dengan dunianya sendiri, yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa.

Hal yang harus diperhatikan guru adalah "anak didik bukan manusia dewasa yang kecil" yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak.
Di samping itu, anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. Untuk itu pendidikan hendaklah yang progresive. Di sini prinsip kebebasan prilaku, di mana anak sebagai subyek pendidikan, sedangkan guru sebagai pelayan siswa.

Hal ini menunjukan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional dimana ditandai dengan sifat verbalisme dimana terdapat cara belajar DDCH atau duduk, dengar, catat, hafal, murid bersifat reseptif dan pasif saja. Hanya dengan menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru, tanpa melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Guru mendominasi kegiatan belajar, tanpa memberikan kebebasan kepada murid untuk bersifat dan berbuat. Menjadi pendidikan yang progresif, yaitu tujuan pendidikan hendaklah diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. Pendidikan bukanlah hanya menyampaikan pengetahuan kepada anak didik saja, melainkan yang terpenting ialah melatih kemampuan berpikir secara ilmiah. Semua itu dilakukan oleh pendidikan agar orang dapat maju atau mengalami progress. Dengan demikian orang akan dapat bertindak dengan intelegen sesuai dengan tuntutan dari lingkungan

Dari uraian di atas, dapatlah diambil suatu konklusi asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil, tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang, setiap anak didik berbeda kemampuannya, individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya.

Kurikulum Progresivisme

Selain kemajuan atau progres, lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah, tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula.

Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen (penting), karena sekolah didirikan untuk anak. Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan, bukan diciptakan sekehendak yang mendidiknya. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan.

Untuk memenuhi keutuhan tersebut, maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orangtua atau masyarakat untuk mendidik anak. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak, orangtua serta masyarakat. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum.

Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving.

Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium, di bengkel, di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. Dalam hal ini, filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas.


KONSTRUKTIVISME


Konstruktivisme merupakan satu pendekatan yang didapati sesuai dipraktikkan dalam pengajaran dan pembelajaran sains. Dalam pendekatan ini murid dianggap telah mempunyai idea yang tersendiri tentang sesuatu konsep yang belum dipelajari. Idea tersebut mungkin benar atau tidak.

Konstruktivisme melibatkan lima fasa, iaitu:
1. Guru meneroka pengetahuan sedia ada murid pada permulaan sesuatu pelajaran melalui soal jawab atau ujian.
2. Guru menguji idea atau pendirian murid melalui aktiviti yang mencabar idea atau pendiriannya.
3. Guru membimbing murid menstruktur semula idea.
4.Guru memberi peluang kepada murid mengaplikasikan idea baru yang telah diperoleh untuk menguji kesahihannya.
5. Guru membimbing murid membuat refleksi dan perbandingan idea lama dengan idea yang baru diperoleh.

Selasa, 06 Mei 2008

Kenakalan Remaja

Masa remaja adalah usia bermasalah. Setiap periode perkembangan mempunyaimasalahnyasendiri-sendiri. Namun masalah pada masa remaja sering menjadi masalah yang sulitdiatasi olehremaja tersebut. Ini disebabkan karena para remaja merasakan dirinya mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua, guru dan orang lain. padahal mereka sendiri juga kurang kemampuannya untuk mengatasi masalahnya sendiri menurut cara yang mereka yakini. Akhirnya para remaja mengalami kesulitan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi para remaja menurut Rumke bersumber dari tiga masalahyaitu:
- masalah individuasi
- masalah regulasi
- masalah integrasi

Dalam buku Psikologi Pendidikan karya Sri Esti Wuryani Djiwandono mengenai KenakalanRemaja adalah:

Salah satu masalah yang paling serius dari remaja adalah remaja nakal atau delinquent, dankebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Remaja nakal biasanya berprestasi rendah danbiasanya pula mereka di dukung oleh kelompoknya. Sebab-sebab terjadinya anak nakal atau juvenile delinquency pada umumnya adalah sebab yang kompleks, yang berarti suatu sebabdapat menimbulkan sebab yang lain.
Para ahli sosiologi berpendapat bahwa kenakalan remaja adalah suatu penyesuaian diri, yaiturespon yang yang dipelajari terhadap situasi lingkungan yang tidak cocok atau lingkungan yang memusuhinya.
Hasil penelitian Robbin (1986) berpendapat bahwa kenakalan remaja ada karena akibat dariadanya masalah neurobiological, sehingga menimbulkan genetik yang tidak normal. Ahli lain berpendapat kenakalan remaja merupakan produk dari konstitusi detektif mental danemosi-emosi mental. Mental dan emosi anak remaja belum matang, masih labil, dan rusak akibat proses conditioneting lingkungan yang buruk.

Minggu, 04 Mei 2008

Tugas Psikologi Pendidikan

1. Mengapa psikologi pendidikan menjadi sangat penting untuk difahami dan diterapkan oleh guru, saat memfasilitasi proses pembelajaranya?
Jawab:
Psikologi pendidikan menjadi sangat penting untuk difahami oleh guru, karena jika guru
tidak mengerti apa arti tentang psikologi pedidikan itu sendiri. Bagaimana guru tersebut
dapat memahami kepribadian individu anak didiknya dalam mengajar. Selain itu pula, guru
tersebut akan mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar.
Perlu diketahui pula bahwa psikologi pendidikan adalah bagian/cabang dari psikologi
atau ilmu tingkah laku yang berkaitan dengan tujuan dan praktek pendidikan di sekolah.
Dengan demikian, psikologi itu dapat didefinisikan sebagai psikologi yang menerapkan
dan mengembangkan prinsip-prinsip, teknik-teknik dan teori-teori yang berkaitan dengan
pelaksanaan belajar-mengajar yang memadai sehingga guru dapat membantu
mengarahkan/membimbing perkembangan murid-muridnya ke arah sasaran yang tepat atau
perkembangan yang maksimal.

2. Informasi tentang proses psikologi yang berpengaruh pada proses belajar, seperti: motivasi,
perasaan, ingatan, fantasi, perhatian, pengamatan dan tanggapan.
Jawab:
Motivasi adalah dorongan atau kekuatan dari dalam diri seseorang yang mendorong
orang bertingkah laku atau berbuat sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Perasaan adalah keadaan diri seseorang yang muncul sesuai dengan apa yang
dirasakannya atau sesuai dengan suasana tempat yang di tempatinya.

Perhatian yaitu mempunyai tugas selektif terhadap rangsangan-rangsangan yang sampai
kepada individu.

Ingatan adalah kesan-kesan pengalaman masa lalu yang tertinggal jejaknya pada otak
kita, selalu ada secara sadar dan dapat ditimbulkan kembali.

Tanggapan adalah bayangan/kesan kenangan dari apa yang pernah kita amati/kenali.

Fantasi adalah suatu daya jiwa untuk menciptakan tanggapan-tanggapan baru dengan
bantuan tanggapan-tanggapan yang ada pada diri kita, menciptakan sesuatu yang baru
dalam jiwa.

3. Pakar psikologi
 John Dewey
Menurut John Dewey:
Pendidikan harus dilangsungkan dengan berpangkal pada pengalaman anak sendiri.
Tetapi karena tidak semua pengalaman berfaedah maka sekolah harus memberikan
pengalaman yang berfaedah demi masa depan anak.
Maksud dan tujuan sekolah ialah menciptakan dan mengembangkan sikap hidup demokratis.

Penelitian John Dewey bertujuan memperoleh jawaban dari:
1. Bagaimana menghubungkan sekolah dengan lingkungan.
2. Bagaimana meghubungkan sejarah, pengetahuan dan kesenian dengan hidup si pelajar.
3. Bagaimana mengajarkan baca, tulis, hitug dengan bahan yang mearik siswa.
4. Bagaimana membangkitkan minat murid pada pokok pelajaran.

Kritik Dewey terhadap pendidikan tradisional:
1. Sekolah tradisional terlalu banyak mata pelajaran. Bahan pelajaran menjadi pusat seluruh
kegiatan sekolah, materio centris.
2. Bahan Pelajaran telah disiapkan dan dipecahkan kesulitannya, membuat siswa tinggal
mendengarkan, percaya dan menghafal saja.
3. Bahan pelajaran diberikan secara terpisah dan tidak memiliki hubungan dengan
kebutuhan anak dalam hidupnya di masyarakat kelak.
4. Gurulah yang menentukan. Guru berfikir untuk anak dan “memaksakan” bahan pelajaran
untuk siswa.
5. kegiatan di sekolah berlangsung kaku dan tidak memberikan kebebasan bertindak.
6. Bentuk bangku, gedung sekolah, kurikulum dan metode pelajaran semuanya mengikat
dan tidak memberi kebebasan kepada anak dan guru.
7. Guru aktif memecahkan masalah untuk anak. Peraturan dan guru seakan-akan memaksa
anak untuk pasif.

Gagasan Perubahan Dewey
1. Masyarakat harus menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk belajar agar: tidak
bergantung pada dogma, berfikir bebas, berdisiplin, objektif, kreatif, dinamis.
2. Materi pelajaran diberikan secara terpadu dan dipraktekkan dalam masyarakat anak.
3. Kehidupan menjadi pusat bahan pelajaran (life central education).
4. Guru hanya berfungsi sebagai penunjuk jalan dan pengamat tingkah laku anak, untuk
mengetahui hal-hal yang menarik minat anak (guru bisa mempergunakan hasil
pengalaman untuk menentukan pusat minat anak)
5. Lingkungan sekolah harus diatur dan diselenggarakan sedemikian supaya anak dapat
bekerja dengan bebas dan spontan.

Hambatan atau penyimpangan dari gagasan Dewey ialah ketika mata pelajaran disesuaikan
dengan kesenangan guru dan murid atau hanya diredaksi menjadi latihan kejuruan.

Keyakinan bahwa proses pendidikan sejati berlangsung melalui pengalaman, tidak berarti
bahwa semua pengalaman bersifat edukatif.

Penglaman bersifat edukatif jika ada keteraturan proses dan dapat diulang, dan bisa
melahirkan proses struktur pengalaman, mengungkap urutan pengalaman, menganalisis
hubungan (sebab-akibat) satu pengalaman dengan pengalaman lainnya dan akhirnya dapat
membuat kesimpulan sebagai hasil belajar dari pengalaman.

Situasi belajar yang sesungguhnya memiliki dimensi-dimensi yang bersifat longitudinal dan
literal memiliki sifat historis dan sosial, bersifat dinamis.

Sekolah tradisional mengandalkan berbagai pokok persoalan dan warisan budaya.

Sekolah progresif mendasarkan pelajaran pada dorongan dan minat serta berbagai perubahan
sosial.

Dewey mengarahkan pendidikan sesuai metode ilmiah, dengannya manusia mempelajari
dunia dan mendapatkan secara komulatif pengetahuan tentang berbagai arti dan makna.

Sebuah games dapat menjadi media belajar dari struktur pengalaman manakala pengalaman
itu memiliki dimensi-dimensi longitudinal dan literal, historis dan sosial, teratur dan dinamis.

Pengalaman bersifat edukatif sejauh bergantung pada suatu kontinuitas pengetahuan dan
kadar pengetahuan yang membentuk dan memodulasikan pandangan hidup, sikap dan
pengetahuan siswa.

Metode
Proses pembelajaran didasarkan pada anggapan bahwa dalam suasana menyenangkan siswa
akan memperoleh kontinuitas pengalaman pendidikan yang relevan dengan kehidupan yang
nyata dan pembentukan pengalaman masa datang. Guru akan menghindarkan siswa dari
pengalaman salah yang mempersempit ruang pertumbuhan potensi siswa.
Proses pembelajaran ini berpusat pada kepentingan pribadi siswa melalui area interaksi yang
mengintegrasikan berbagai kompetensi dasar siswa.

Pendekatan belajar dari pengalaman meliputi 4 area interaksi, yaitu:
1. Pelayanan masyarakat.
2. Manusia budaya.
3. Peduli lingkungan.
4. Kesehatan jasmani.

Senin, 31 Maret 2008

Pengalaman Pribadi

Semua manusia dilahirkan ke dunia ini dengan segala kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan tersebut akan mengantarkan manusia itu sendiri menghadapi kehidupan yang akan dijalaninya. Kelebihan yang dimiliki manusia terkadang membuat manusia itu akan merasa angkuh menjalani hidupnya. Akan tetapi sebaliknya, rasa kekurangan yang dimiliki manusia tersebut akan membuat manusia merasa tidak nyaman atau lebih kita kenal saat ini dengan istilah "tidak PD". Rasa tidak PD tersebut akan membuat manusia merasa minder dan kecil hati jika ingin melakukan segala sesuatu bahkan bisa-bisa semua itu dijadikan sebuah persoalan hidup. Akan tetapi jika kita dapat dengan tenang menghadapi segala persoalan dalam hidup ini maka kekurangan tersebut akan menjadi sebuah kelebihan yang tidak pernah dikira sebelumnya.
Pada kesempatan kali ini saya akan menuturkan sedikit pengalaman pribadi saya yang membuat saya merasa tidak percaya diri "PD" dalam menjalani kehidupan saya. Sejak dilahirkan alhamdulilah saya berada di lingkungan orang yang beragama. Jadi sejak lulus sekolah dasar (SD) saya melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Sebagai mana yang telah kita ketahui bahwa pendidikan di pondok pesantren itu sangat ketat sekali apalagi dengan peraturannya. Di pondok pesantren antara wanita dan pria itu di pisah. Oleh sebab itu, setelah tamat dari pondok pesantren dan saya menjalani kehidupan di luar pondok pesantren saya merasa canggung atau kurang dalam beradaptasi denga pria. Karena pergaulan di dunia kuliah itu sangat luas antara wanita dan pria. Dalam berorganisasi, belajar di kelas, UKM-UKM dll. Oleh sebab itu saya merasa kurang percaya diri jika berbicara atau berdiskusi secara langsung dengan pria. Padahal dari orang lain kita bisa mendapatkan banyak informasi. Jadi, pada saat kuliah ini saya merasa sedikit terganggu jika harus berkomunikasi langsung dengan lawan jenis.
Akan tetapi, pada saat sekarang saya sudah dapat merubah sedikit demi sedikit sikap introvet saya tehadap lawan jenis. Karena jika terus-menerus saya bersikap seperti itu maka hanya akan mengganggu saya dalam berkuliah. Walau demikian, saya tetap menjaga norma-norma dalam bergaul dengan lawan jenis karena saya tidak ingin terjerumus ke dalam pergaulan yang sangat bebas.

Kamis, 13 Maret 2008

Perkembangan Psikologi Remaja

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI REMAJA


Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.
Setiap tahapan usia seseorang, selalu melewati tahap tugas-tugas perkembangan-nya.
Bila seseorang gagal melewati tugas perkembangan pada usia yang sebenarnya (sesuai dengan usia kalender-nya), maka pada tahap perkembangan berikutnya akan terjadi suatu masalah pada diri seseorang tersebut. Untuk mengenal lebih jauh tentang kepribadian remaja perlu diketahui tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan tersebut antara lain:

1. Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif
Sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu. Misalnya si Ani merasa kulitnya tidak putih seperti bintang film, maka Ani akan berusaha sekuat tenaga untuk memutihkan kulitnya. Perilaku Ani yang demikian tentu menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin Ani akan selalu menolak bila diajak ke pesta oleh temannya sehingga lama-kelamaan Ani tidak memiliki teman, dan sebagainya.

2. Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orangtua
Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering disertai perilaku "pemberontakan" dan melawan keinginan orangtua. Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah , maka remaja akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-temannya yang senasib dengannya. Jika orangtua tidak menyadari akan pentingnya tugas perkembangan ini, maka remaja Anda dalam kesulitan besar.

3. Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin
Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya menyadari akan pentingnya pergaulan. Remaja yang menyadari akan tugas perkembangan yang harus dilaluinya adalah mampu bergaul dengan kedua jenis kelamin maka termasuk remaja yang sukses memasuki tahap perkembangan ini. Ada sebagaian besar remaja yang tetap tidak berani bergaul dengan lawan jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam tugas perkembangan remaja tersebut.

4. Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri
Banyak remaja yang belum mengetahui kemampuannya. Bila remaja ditanya mengenai kelebihan dan kekurangannya pasti mereka akan lebih cepat menjawab tentang kekurangan yang dimilikinya dibandingkan dengan kelebihan yang dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja tersebut belum mengenal kemampuan dirinya sendiri. Bila hal tersebut tidak diselesaikan pada masa remaja ini tentu saja akan menjadi masalah untuk tugas perkembangan selanjutnya (masa dewasa atau bahkan sampai tua sekalipun).

5. Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma
Skala nilai dan norma biasanya diperoleh remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya terutama dari tokoh masyarakat maupun dari bintang-bintang yang dikaguminya. Dari skala nilai dan norma yang diperolehnya akan membentuk suatu konsep mengenai harus menjadi seperti siapakah "aku" ?, sehingga hal tersebut dijadikan pegangan dalam mengendalikan gejolak dorongan dalam dirinya.

Selain tugas-tugas perkembangan, kita juga harus mengenal ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain:
- Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat
- Emosinya tidak stabil
- Perkembangan Seksual sangat menonjol
- Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
- Terikat erat dengan kelompoknya

Secara teoritis beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan. Dari kesimpulan yang diperoleh maka masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:

1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun
a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya:
- Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
- Anak mulai bersikap kritis

b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:
- Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
- Memperhatikan penampilan
- Sikapnya tidak menentu/plin-plan
- Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib

c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya:
- Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
- Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria

2. Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun
Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
- Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
- Mulai menyadari akan realitas
- Sikapnya mulai jelas tentang hidup
- Mulai nampak bakat dan minatnya

Dengan mengetahui tugas perkembangan dan ciri-ciri usia remaja diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.
[sumber :www.iqeq.web.id]